PERISTIWA PERLAWANAN SUKAMANAH DIBANGUN DIATAS DASAR KEAGAMAAN DAN KEBANGSAAN YANG KUAT
(Sebuah
renungan dan refleksi di hari peringatan perjuangan KH Zainal Musthafa
Sukamanah) Cita-Cita negara Islam dijunjung tinggi dalam hati sanubari
rakyat sesuai dengan ajaran agama. Demikian pula semangat kemerdekaan
sangat tebal masyarakat Singaparna yang terkenal kebenciannya terhadap
penjajahan. Pada masa kolonial Belanda pun daerah ini mendapat
pengawasan yang keras. Selain rakyat teguh beragama, teguh pula memegang
kebangsaannya. Diatas dasar-dasar yang suci
inilah tumbuh alasan-alasan yang sangat menggetarkan hati untuk
memberontak terhadap penjajahan totaliter Jepang. Walaupun sebagian
pemimpin- pemimpin kita di Jakarta turut daam upacara “seikeirei”,
sebagai sembah terhadap tenohaika ke arah Tokyo, namun bagi rakyat
Singaparna, Sukamanah Khususnya hal ini menjadi soal yang sangat
penting, yang tidak dapat disandiwarakan. Cara menyembah ini melukai
hati ummat yang beragama Islam, seolah-olah merubah arah kiblat dari
tanah suci ke Jepang. Cita-cita “Darul Islam” yang telah meluas yang
mendalam dikalangan rakyat, tidak mungkin mengalah kepada gerakan
“seikeirei” ini yang dilakukan oleh pemerintah Jepang pada tiap upacara.
Sebagai seorang ulama yang menjunjung tinggi nilai kejujuran, kebenaran
dan keadilan serta sifat taat, tabah, qana’at dan syaja’ah yang
dimilikinya KH.Zanal Musthafa menjadi pimpinan dan panutan ummat yang
berbudi luhur, kharismatik, patriotik dan berpandangan luas kedepan.
Pada tahun 1933 beliau masuk jamaah Nahdlotul Nlama (NU) dan diangkat
sebagai wakil Rais Syuriyah NU Cabang Tasikmalaya. Sikap beliau sangat
membenci terhadap penjajah ditanamkan kepada santri-santrinya di
pesantren. Sikap itu kadang beliau sampaikan di depan umum sehingga
sering mendapat peringatan bahkan beliau tak jarang diturunkan dari
mimbar oleh kaki tangan penjajah. Pada tanggal 17 November 1941 (27
Syawal 1362 H ) KH.Zainal Musthafa dan KH.Ruhiat (Pimpinan Pondok
Pesantren Cipasung) ditangkap dan dipenjarakan di penjara Tasikmalaya,
sehari kemudian mereka dipindahkan ke penjara Sukamiskin Bandung, dan
pada tanggal 10 Januari 1942 mereka dibebaskan. Tapi pada akhir Februari
1942 KH.Zainal Musthafa kembali ditangkap dan dimasukan kepenjara
Ciamis. Pada waktu Belanda menyerah kepada Jepang KH.Zainal Musthafa
masih mendekam dipenjara, dan pada akhir Mei 1942 beliau dibebaskan oleh
seorang colonel Jepang. Api perlawanan suci yang telah menyala
sedemikian dalam di hati sanubari penganut Islam di daerah ini, meski
kekuasaan telah berpindah dari Colonial Belanda ke tentara Jepang, tapi
sikap dan pandangan KH.Zainal Musthafa terhadap penjajah baru tidak
berubah sama sekali, bahkan kebenciannya itu semakain memuncak setelah
menyaksikan sendiri kedzaliman hamba-hamba tenohaika ini. Setiap hari
beribu-ribu rakyat Indonesia dijadikan Rhomusa, menjual padi kepada
pemerintah secara paksa, pemerkosaan terhadap gadis-gadis merajalela,
segala partai, ormas dan organisasi nasional dilarang dan setiap pagi
rakyat Indonesia diwajibkan ruku’ kearah Tokyo. Hal tersebut sudah cukup
membuat beliau membulatkan tekad menentang dan menyatakan berontak
terhadap penjajah Jepang. Untuk itu, beliau selalau menanamkan semangat
jihad fi sabilillah kepada para santri-santrinya yang saat itu berjumlah
600-700 orang. Diantara murid beliau saat itu adalah KH.Wahab Muhsin
(Alm) Sesepuh Pondook Pesantren Sukahideng yang merupakan kakak kandung
KH.Muhammad Fuad Muhsin (Sesepuh Pondok Pesantren Sukamanah) dan
KH.Muhammad Syhabudin Muhsin (Pimpinan Pondok Pesantren Sukahideng).
Setelah pemerintah Jepang mengetahui maksud KH.Zainal Musthafa, maka
pada tanggal 24 Februari 1994 mereka mengirimkan satu regu pasukan
bersenjata yaitu goto sidokan untuk menangkap beliau dan para santrinya,
tetapi mereka gagal bahkan mereka menjadi tawanan pihak Sukamanah.
Keesokan harinya, tepatnya jum’at 25 Februari 1944 bertepatan tanggal 1
Robiul Awwal tahun Alif 1365 H, semua tawanan dibebaskan hanya senjata
mereka tetap menjadi rampasan. Kira-kira pukul 13.00 datang empat orang
kompetai dan dengan congkakanya meminta agar senjata mereka dikembalikan
dan KH.Zainal Musthafa harus menyerah. Rakyat yang telah rela mati
berkalang tanah dari pada hidup bercermin bangkai menjawabnya dengan
pekikan ” TAKBIR” dan langsung menyerang mereka, maka merekapun lari
dengan gugupnya, tiga orang kompetai dan satu juru bahasanya lari ke
sawah dan seorang lagi selamat. Segera setelah kejadian ini, menjelang
ashar datang puluhan truk militer siap tempur yang ternyata mereka
adalah bangsa sendiri dan langsung mereka membuka salvo serta menghujani
barisan santri yang hanya berasenjatakan bambu runcing, pedang bambu
dan senjata sederhana lainnya dari jarak jauh. Melihat yang datang
adalah bangsa sendiri, maka KH.Zainal Musthafa mengeluarkan perintah
agar tidak melakukan perlawanan sebelum musuh memasuki jarak
perkelahian, setelah mereka mendekat, barulah bambu runcing, pedang
bambu dan golok menjawab serangan tersebut. Akhirnya, dengan jumlah yang
begitu besar, lengkap dan penuh strategi, pasukan jepang berhasil
menerobos dan mempoprak porandakan pertahanan pasukan Sukamanah dan
menangkap KH.Zainal Musthafa. Dari data yang di dapat para syuhada yang
gugur pada waktu itu 86 orang dan dikebumikan dalam satu lobang.
Peristiwa tersebut terjadi pada hari jum’at tanggal 25 Februari 1944 M
bertepatan dengan tanggal 1 Rabiul Awwal 1365 H. Dari hari itulah
kemudian dikenal dengan sebutan “SUKAMANAH BERSIMBAH DARAH”. Selanjutnya
KH.Zainal Musthafa ditahan di penjara Tasikmalaya kemudian dipindahkan
ke Bandung dan seterusnya tidak diketahui. Pada tahun 1970 kepala
Erevele Belanda Ancol Jakarta memberitahu bahwa KH.Zainal Musthafa telah
menjalani hukuman mati pada tanggal 25 Oktober 1944 dan dimakamkan di
taman pahlawan Belanda Ancol Jakarta. Beberapa bentuk yang diberikan
pemerintah atas jasa-jasa almarhum diantaranya : 1. Nama KH.Zainal
Musthafa diabadikan menjadi jalan protocol utama Tasikmalaya. 2.
Penggunaan gelar “Pahlawan Nasional” kepada almarhum dengan SK. Presiden
Republik Indonesia No : 064/TK Tahun 1972 Tanggal 20 November 1972. 3.
Pemindahan jenazah almarhum beserta 17 orang pengikutnya pada tanggal 25
Agustus 1973 ke Taman Makam Pahlawan Sukamanah. 4. Sejak tahun 1974
setiap tanggal 25 Februari diselenggarakan peringatan perjuangan KH.
Zainal Musthafa dengan tidak melupakan peringatan 1 Rabiul Awal. 5
Memberikan santunan kepada keluarga almarhum. 6. memberikan berbagai
bantuan kepada lembaga-lembaga pendidikan formal dan non formal yang ada
dillingkungan yayasan KH.Zainal Musthafa Sukamanah. 7. Dibangunnya
monument aktualilsasi perjuangan KH.Zainal Musthafa Sukamanah di
bunderan By Pass Tasikmalaya yang diresmikan pada tanggal 16 November
2000 / 11 Sya’ban 1421 H oleh Gubernur Jawa Barat. Sungguh banyak
pelajaran berharga yang dapat kita ambil dalam momentum peringatan
perjuangan KH.Zainal Musthafa ini: • Semangat dan ruh Jihad • Disipilin
aqidah, tidak ada kompromi dengan kedhaliman, kesesatan dan kemusyrikan •
Cinta tanah air • Berani mengatakan haq walaupun pahit sekalipun •
Tidah rela melihat kedhaliman dan penindasan • Perjuangan beliau
dibangun diatas dasar fondasi yang kuat, sehingga kemenangan layak
dicapai Winning Value dalam arti beliau menanamkan sebuah nilai-nlai
luhur terhadap santri dan masyarakat Winning Concept dalam arti beliau
seorang ulama, pejuang sekaligus negarawan yang berani beda demi
kebenaran Winning System, dalam arti beliau berdakwah dan berjuang
teratut dan dengan bijaksana Winning team dalam arti kesatuan dan
persatuan diantara faktor yang sangat penting dalam perjuangan Winning
goal dalam arti tujuan beliau yang tiada lain I’laa kalimatillah dan
musnahnya penjajahan dan kedhaliman. • Akar-akar sejarah yang
ditancapkan diatas dasar Perjuangan dan pengorbanan yang tulus akan
menjadi lautan dan ladang pahala yang akan berbuah manis di dunia dan
diakhirat. KH. Drs A Thahir Fuad merupakan pimpinan Pondok pesantren
Perg. KH. Zainal Musthafa Sukamanah kini, pasca sang pahlawan gugur dan
setelah KH. Muhammad Fuad Muhsin (Sesepuh Pondok Pesantren Sukamanah)
menghadap Yang Maha Kuasa. Semoga beliau dan para penerus perjuangan
serta pelaku Sukamanah berikutnya senantiasa diberi kekuatan ketabahan
dan ada dalam lindungan Allah SWT. (Sumber: Dokumen dan arsif Sukamanah )
Sang Pahlawan Kala fajar menyongsong mentari Bumi Sukamanah
bersenandung riang Ada tawa gemuruh dan hempasan Lantunan berantai doa’
Dari kami untukmu pahlawan. Alam menggemakan suara angin perjuangan Jiwa
kami bergetar mengenang perjuanganmu Angin semelir menghantar puji dan
do’a Dari kami untukmu pahlawan Dahulu… Kau torehkan jejak perjuangan
Dalam bara semangat agama dan bangsa Darah, keringat berpadu deru debu
perjuangan Teriak semangat dan takbir menggetarkan Jantung bumi
Sukamanah bergema Engkau… Dengan ikat kepala dan bambu runcingmu
ditangan Dengan semangat rela mati untuk negeri ini Peluru, belati
menumpahkan darahmu Dari dalam tubuh sucimu. Sungguh besar jasa dan
pengorbananmu Jangankan harta benda nyawa sekalipun kau pertaruhkan
Semangatmu tidak rela melihat agama dan bangsa terhina. Keberanianmu
merubah yang pahit menjadi manis. Ya Allah tempatkanlah Syuhada dalam
tempat yang mulia, Ya Allah anugrahkan kekuatan kepada pemimpin-pemimpin
kami, Ya Allah Jauhkanlah bumi Sukamanah dari virus-virus perpecahan,
Ya Allah anugrahkan kepada kami rahmat dan karuniamu, Ya Allah
anugrahkan kepada kami keberkahanMU, Ya Allah anugrahkan kepada kami
kekuatan memerangi kedzaliman.
Dari kami untukmu pahlawan. Damai dan tenanglah dalam pangkuan yang maha kuasa Damailah dalam peraduan doa’ suci anak negeri Damailah dalam dekap yang maha pemberi.
* Penulis adalah salah seorang santri pondok pesantren KH Zainal Musthafa Sukamanah.
Sukamanah, 25 Februari 2010
Dari kami untukmu pahlawan. Damai dan tenanglah dalam pangkuan yang maha kuasa Damailah dalam peraduan doa’ suci anak negeri Damailah dalam dekap yang maha pemberi.
* Penulis adalah salah seorang santri pondok pesantren KH Zainal Musthafa Sukamanah.
Sukamanah, 25 Februari 2010
(Oleh: Edi Bukhori)*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar