Santri

Santri
Icon

Senin, 02 Juni 2014

RIWAYAT HIDUP KH. ZAINAL MUSTHAFA SUKAMANAH

SEKILAS RIWAYAT HIDUP DAN PERJUANGAN PAHLAWAN NASIONAL ASY-SYAHID K.H. ZAINAL MUSTHAFA SUKAMANAH

Zainal Musthafa dilahirkan di Kampung Bageur Desa Cimerah Kecamatan/Kewedanaan Singaparna Kabupaten Tasikmalaya (sekarang Desa Sukarapih Kec. Sukarame Kab. Tasikmalaya) pada tahun1901 M. Ibunya bernama Ratmah dan ayahnya bernama  Nawapi. Beliau dikenal dengan nama kecilnya Umri dan Hudaemi. Beliau dibesarkan dalam lingkungan keluarga petani yang taat beragama. Setelah Zainal Musthafa kecil lulus dari Sekolah Rakyat, beliau menimba ilmu di beberapa pesantren, diantaranya: Pesantren Gunung Pari, Cilenga Leuwisari,Sukaraja Garut, Sukamiskin Bandung dan Jamanis Rajapolah. Di Pesantren Gunung Pari beliau dibimbing oleh kakak misannya yang bernama Dimyati yang kemudian dikenal dengan nama K.H. Zainal Muhsin.
Pada tahun 1927 Zainal Musthafa muda mendirikan sebuah pesantren di Kampung Cikembang dengan nama Pesantren Sukamanah. Nama kampung Cikembang berganti Nama menjadi kampung Sukamanah. Pesantren Sukamanah  didirikan di atas tanah wakaf untuk rumah dan mesjid dari seorang janda dermawan bernama Hj. Juariyah. Sebelumnya, pada tahun 1922 Hj. Juariyah memberikan tanah wakaf yang sama kepada K.H.Zainal Muhsin (pendiri pesantren Sukahideng) di Kampung Bageur. Dalam usia 26 tahun, usia yang sangat muda Zainal Musthafa telah mendirikan pesantren dan menunaikan ibadah haji pada tahun 1928 yang dibiayai pula oleh Hj. Juariyah.
      Sebagai seorang ulama yang memiliki sifat ta’at, tabah, qona’at, syaja’ah dan menjunjung tinggi nilai kejujuran, kebenaran dan keadilan, maka tak bisa dipungkiri bila beliau menjadi seorang pemimpin dan panutan umat  yang kharismatik, patriotik, berbudi luhur serta berpandangan jauh ke depan. Hal ini terbukti dengan bergabungnya beliau dalam Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1933. Beliau tercatat sebagai Wakil Rois Syuriyah Cabang Tasikmalaya
Pesantren Sukamanah hadir menjadi pesantren yang memiliki santri ± 600-700 orang. Hal ini menimbulkan kecurigaan yang sangat besar bagi pemerintah Belanda pada saat itu, mereka menganggap bahwa pengajian tersebut adalah perkumpulan yang dimaksudkan untuk menyusun kekuatan rakyat Indonesia melawan penjajah. K.H. Zainal Musthafa sering diturunkan dari mimbar oleh kaki tangan pemerintah Belanda dan ditahan di penjara Tasikmalaya bersama K.H. Ruhiyat (Pimpinan Pesantren Cipasung) pada tanggal 17 Nopember 1941 M/27 Syawal 1362 H atas tuduhan menghasut rakyat. Sehari kemudian mereka dipindahkan ke penjara Sukamiskin Bandung dan dibebaskan pada tanggal 10 Januari 1942. K.H. Zainal Musthafa ditangkap kembali dan ditahan di penjara Ciamis  pada akhir Februari 1942 menjelang penyerbuan Jepang ke Jawa, dan dibebaskan oleh seorang kolonel Jepang pada tanggal 31 Maret 1942.
Meskipun kekuasaan telah berpindah tangan dari kolonial Belanda kepada tentara Jepang,  sikap dan pandangan beliau  terhadap penjajah baru tidak berubah. Kebencian beliau semakin memuncak setelah menyaksikan sendiri kezaliman hamba-hamba Tennohaika Jepang. Beribu-ribu rakyat Indonesia dijadikan romusha, penjualan padi kepada Pemerintah Jepang secara paksa, pemerkosaan terhadap gadis-gadis merajalela, segala partai, ormas dan organisasi nasional dilarang dan setiap pagi rakyat Indonesia diwajibkan saikeirei atau ruku ke arah istana Kaisar Jepang Tokyo. Keteguhan iman beliau tidak akan tergoyahkan dengan perbuatan saikeirei tersebut, maka beliau bertekad untuk menegakkan kalimatullah dan berjuang menentang kezaliman Jepang meskipun nyawa menjadi taruhannya.
Setelah pemerintah Jepang mengetahui sikap K.H. Zainal Musthafa, mereka mengirimkan satu regu pasukan bersenjata untuk menangkap beliau dan para santrinya. Namun, mereka gagal dan menjadi tawanan pihak Sukamanah. Keesokan harinya, hari Jumat 25 Februari 1944 semua tawanan dibebaskan, tetapi senjata tetap menjadi rampasan. Kira-kira pukul 13.00 datang 4 orang kenpeitai (polisi militer)  dan salah satunya merupakan juru bahasa.  Mereka dengan  congkaknya meminta agar  K.H. Zainal Musthafa menyerah dan senjata milik mereka dikembalikan yang terdiri dari 12 buah senapan, 3 buah pistol, 25 senjata tajam. Santri Sukamanah dan masyarakat sekitarnya yang telah  rela mati berkalang tanah  dari pada hidup bercermin bangkai menjawabnya dengan pekikan takbir dan langsung menyerang mereka. Tiga orang kenpeitai (polisi militer) dan seorang juru bahasanya lari ke arah sawah dan meninggal di sana, sedangkan yang satu orang lagi berhasil menyelamatkan diri Menjelang ashar datang enam kompi polisi istimewa yang didatangkan dari seluruh Jawa Barat.Ternyata mereka adalah tentara bangsa Indonesia sendiri yang langsung membuka salvo dan menghujani barisan santri yang hanya bersenjatakan bambu runcing, pedang bambu, dan senjata sederhana lainnya. Menyadari yang datang adalah bangsa sendiri, K.H. Zainal Musthafa memberikan komando agar tidak melakukan perlawanan sebelum musuh memasuki jarak perkelahian. Setelah mereka mendekat, barulah bambu runcing, pedang bambu dan golok menjawab serangan tersebut. Akhirnya, dengan kekuatan yang begitu besar, strategi perang yang hebat dan dilengkapi dengan persenjataan yang canggih, pasukan Jepang berhasil menerobos dan memporak-porandakan pertahanan pasukan Sukamanah dan menangkap K.H. Zainal Musthafa.
Peristiwa pertempuran Sukamanah terjadi pada hari Jum’at tanggal 25 Februari 1944 M/1 Rabi’ul Awwal 1365 H.Para syuhada yang gugur sebanyak 86 orang dan dikebumikan dalam satu lubang.K.H. Zainal Musthafa ditahan di penjara Tasikmalaya, kemudian dipindahkan ke Bandung, selanjutnya dipindahkan lagi ke penjara Cipinang dan setelah itu  tidak diketahui di mana beliau berada. Alhamdulillah, atas usaha Kol. Drs. Nugraha Natosusanto, Kepala Pusat Sejarah ABRI, pada tanggal 23 Maret 1970 telah ditemukan data dari kepala kantor Ereveld (Taman Pahlawan) Belanda bahwa K.H. Zainal Musthafa telah menjalani hukuman mati pada tanggal 25 Oktober 1944 dan dimakamkan di Taman Pahlawan Belanda Ancol Jakarta.
K.H. Zainal Musthafa dianugerahi gelar “Pahlawan Nasional” dengan SK. Presiden RI Nomor:064/TK tahun 1972 tanggal 20 Nopember 1972, diserahkan oleh Mintareja SH, menteri sosial kepada keluarga K.H. Zainal Musthafa pada tanggal 9 Januari 1973. Jenazah Assyahid K.H. Zainal Musthafa beserta 17 orang santrinya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Sukamanah pada tanggal 25 Agustus 1973.
K.H. Zainal Musthafa mempunyai tiga orang isteri, yaitu: almarhumah Ny. Enoh Sukaenah (isteri pertama), Almarhumah Ny. Anda (isteri kedua) dan Almarhumah Hj.Ecin Kuraesin (isteri ketiga),dan 6 orang anak, yaitu: Almarhum Mumu Najmul Muhtadin, Ny. Siti Shofiyah (dari isteri pertama), almarhumah  Ny. Jueriyah, Almarhum Bahaudin, (dari isteri kedua), Ny. Hj. Atik Atikah dan almarhum Endang Nazaruddin Musthafa, Drs. (dari isteri ketiga).
Peristiwa ‘Pertempuran Sukamanah berdarah’ telah berlalu, K.H. Zainal Musthafa telah berpulang ke Rahmatullah, tinggallah Pesantren Sukamanah yang porak poranda. Hadirlah K.H. Moh. Fuad Muhsin (adik kandung KH.Wahab Muhsin) yang menikah dengan Ny.Siti Shofiyah (salah seorang putri K.H. Zainal Musthafa) mengelola dan membangun kembali Pesantren Sukamanah bersama-sama dengan K.Uha Abdul Aziz (adik kandung K.H. Zainal Musthafa) dan dibantu oleh para santri K.H. Zainal Musthafa yang masih hidup pada tahun 1950. Kemudian pada bulan Desember 1999 K.H. Fuad Muhsin menyerahkan kepemimpinannya  kepada putranya KH.Drs A. Thahir Fuad.Pengelolaan Pesantren Sukamanah dan Sekolah-sekolah yang berada dibawah naungan Yayasan KHZ.Musthafa Sukamanah dibantu oleh seluruh anggota keluarga besar KHZ.Musthafa dan simpatisan sesuai dengan keahlian dan kemampuan yang dimiliki.
Pimpinan Pesantren Sukamanah dan Sukahideng sepakat untuk mendirikan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Sukahideng pada tahun 1956, mendirikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Al Ishlah pada tahun 1958/1959. Setelah  terbentuk Yayasan KHZ. Musthafa Sukamanah pada tanggal 17 Agustus 1959 dengan akta notaries nomor 8 tahun 1959 dan diperbaharui dengan  akta  notaries nomor 10 tahun 1988, MI, SMP, SMA, dan PGAP menjadi MI, SMP, SMA, PGAP K.H. Zainal Musthafa Sukamanah.
Jalan Singaparna diresmikan menjadi Jalan K.H. Zainal Musthafa pada tanggal 25 Pebruari 1960.Sejak tahun 1974, setiap tanggal 25 Pebruari diselenggarakan Peringatan Perjuangan Pahlawan Nasional K.H. Zainal Musthafa. Monumen Aktualisasi Perjuangan K.H. Zainal Musthafa Sukamanah di bundaran By Pass Tasikmalaya diresmikan pada tanggal 16 Nopember 2000 M/11 Sya’ban 1421 H oleh Gubernur Jawa Barat. Keluarga K.H. Zainal Musthafa Sukamanah menjadi anggota Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI) dan mengikuti Musyawarah Nasional anggota IKPNI di Gedung Serba Guna Taman Pahlawan Nasional Kalibata Jakarta pada tanggal 7-9 Agustus 2008 .
Kami segenap keluarga besar K.H. Zainal Musthafa Sukamanah memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Alm. kol.Syarif Hidayat, Alm K.H.Wahab Muhsin, Alm. K.H. Moh. Fuad Muhsin, Alm. K.Uha Abd.Aziz ,KH.Syihabudin Muhsin,dan santri-santri KHZ.Musthafa lainnya (tidak dapat kami sebutkan satu persatu) yang sangat berjasa dalam mengaktualisasikan prinsip-prinsip Perjuangan K.H. Zainal Musthafa sehingga bisa dilanjutkan oleh generasi sekarang dan yang akan datang. Amin.
Naskah asli ditulis oleh KH.Moh.Fuad Muhsin (Alm.) tahun 1996
Direvisi oleh Hirni Kifa Hazefa,SPd.(Salah seorang cucu KHZ.Musthafa, Bidang Litbang PW.Fatayat NU Prov.Jawa Barat) pada tanggal 16 Maret 2010.
Disahkan oleh Musyawarah Keluarga Besar Asy-Syahid KH. Zainal Musthafa pada hari Jumat tanggal 2 April 2010 M / 17 Rabiul Akhir 1431 H.

PERISTIWA PERLAWANAN SUKAMANAH DIBANGUN DIATAS DASAR KEAGAMAAN DAN KEBANGSAAN YANG KUAT

(Sebuah renungan dan refleksi di hari peringatan perjuangan KH Zainal Musthafa Sukamanah) Cita-Cita negara Islam dijunjung tinggi dalam hati sanubari rakyat sesuai dengan ajaran agama. Demikian pula semangat kemerdekaan sangat tebal masyarakat Singaparna yang terkenal kebenciannya terhadap penjajahan. Pada masa kolonial Belanda pun daerah ini mendapat pengawasan yang keras. Selain rakyat teguh beragama, teguh pula memegang kebangsaannya. Diatas dasar-dasar yang suci inilah tumbuh alasan-alasan yang sangat menggetarkan hati untuk memberontak terhadap penjajahan totaliter Jepang. Walaupun sebagian pemimpin- pemimpin kita di Jakarta turut daam upacara “seikeirei”, sebagai sembah terhadap tenohaika ke arah Tokyo, namun bagi rakyat Singaparna, Sukamanah Khususnya hal ini menjadi soal yang sangat penting, yang tidak dapat disandiwarakan. Cara menyembah ini melukai hati ummat yang beragama Islam, seolah-olah merubah arah kiblat dari tanah suci ke Jepang. Cita-cita “Darul Islam” yang telah meluas yang mendalam dikalangan rakyat, tidak mungkin mengalah kepada gerakan “seikeirei” ini yang dilakukan oleh pemerintah Jepang pada tiap upacara. Sebagai seorang ulama yang menjunjung tinggi nilai kejujuran, kebenaran dan keadilan serta sifat taat, tabah, qana’at dan syaja’ah yang dimilikinya KH.Zanal Musthafa menjadi pimpinan dan panutan ummat yang berbudi luhur, kharismatik, patriotik dan berpandangan luas kedepan. Pada tahun 1933 beliau masuk jamaah Nahdlotul Nlama (NU) dan diangkat sebagai wakil Rais Syuriyah NU Cabang Tasikmalaya. Sikap beliau sangat membenci terhadap penjajah ditanamkan kepada santri-santrinya di pesantren. Sikap itu kadang beliau sampaikan di depan umum sehingga sering mendapat peringatan bahkan beliau tak jarang diturunkan dari mimbar oleh kaki tangan penjajah. Pada tanggal 17 November 1941 (27 Syawal 1362 H ) KH.Zainal Musthafa dan KH.Ruhiat (Pimpinan Pondok Pesantren Cipasung) ditangkap dan dipenjarakan di penjara Tasikmalaya, sehari kemudian mereka dipindahkan ke penjara Sukamiskin Bandung, dan pada tanggal 10 Januari 1942 mereka dibebaskan. Tapi pada akhir Februari 1942 KH.Zainal Musthafa kembali ditangkap dan dimasukan kepenjara Ciamis. Pada waktu Belanda menyerah kepada Jepang KH.Zainal Musthafa masih mendekam dipenjara, dan pada akhir Mei 1942 beliau dibebaskan oleh seorang colonel Jepang. Api perlawanan suci yang telah menyala sedemikian dalam di hati sanubari penganut Islam di daerah ini, meski kekuasaan telah berpindah dari Colonial Belanda ke tentara Jepang, tapi sikap dan pandangan KH.Zainal Musthafa terhadap penjajah baru tidak berubah sama sekali, bahkan kebenciannya itu semakain memuncak setelah menyaksikan sendiri kedzaliman hamba-hamba tenohaika ini. Setiap hari beribu-ribu rakyat Indonesia dijadikan Rhomusa, menjual padi kepada pemerintah secara paksa, pemerkosaan terhadap gadis-gadis merajalela, segala partai, ormas dan organisasi nasional dilarang dan setiap pagi rakyat Indonesia diwajibkan ruku’ kearah Tokyo. Hal tersebut sudah cukup membuat beliau membulatkan tekad menentang dan menyatakan berontak terhadap penjajah Jepang. Untuk itu, beliau selalau menanamkan semangat jihad fi sabilillah kepada para santri-santrinya yang saat itu berjumlah 600-700 orang. Diantara murid beliau saat itu adalah KH.Wahab Muhsin (Alm) Sesepuh Pondook Pesantren Sukahideng yang merupakan kakak kandung KH.Muhammad Fuad Muhsin (Sesepuh Pondok Pesantren Sukamanah) dan KH.Muhammad Syhabudin Muhsin (Pimpinan Pondok Pesantren Sukahideng). Setelah pemerintah Jepang mengetahui maksud KH.Zainal Musthafa, maka pada tanggal 24 Februari 1994 mereka mengirimkan satu regu pasukan bersenjata yaitu goto sidokan untuk menangkap beliau dan para santrinya, tetapi mereka gagal bahkan mereka menjadi tawanan pihak Sukamanah. Keesokan harinya, tepatnya jum’at 25 Februari 1944 bertepatan tanggal 1 Robiul Awwal tahun Alif 1365 H, semua tawanan dibebaskan hanya senjata mereka tetap menjadi rampasan. Kira-kira pukul 13.00 datang empat orang kompetai dan dengan congkakanya meminta agar senjata mereka dikembalikan dan KH.Zainal Musthafa harus menyerah. Rakyat yang telah rela mati berkalang tanah dari pada hidup bercermin bangkai menjawabnya dengan pekikan ” TAKBIR” dan langsung menyerang mereka, maka merekapun lari dengan gugupnya, tiga orang kompetai dan satu juru bahasanya lari ke sawah dan seorang lagi selamat. Segera setelah kejadian ini, menjelang ashar datang puluhan truk militer siap tempur yang ternyata mereka adalah bangsa sendiri dan langsung mereka membuka salvo serta menghujani barisan santri yang hanya berasenjatakan bambu runcing, pedang bambu dan senjata sederhana lainnya dari jarak jauh. Melihat yang datang adalah bangsa sendiri, maka KH.Zainal Musthafa mengeluarkan perintah agar tidak melakukan perlawanan sebelum musuh memasuki jarak perkelahian, setelah mereka mendekat, barulah bambu runcing, pedang bambu dan golok menjawab serangan tersebut. Akhirnya, dengan jumlah yang begitu besar, lengkap dan penuh strategi, pasukan jepang berhasil menerobos dan mempoprak porandakan pertahanan pasukan Sukamanah dan menangkap KH.Zainal Musthafa. Dari data yang di dapat para syuhada yang gugur pada waktu itu 86 orang dan dikebumikan dalam satu lobang. Peristiwa tersebut terjadi pada hari jum’at tanggal 25 Februari 1944 M bertepatan dengan tanggal 1 Rabiul Awwal 1365 H. Dari hari itulah kemudian dikenal dengan sebutan “SUKAMANAH BERSIMBAH DARAH”. Selanjutnya KH.Zainal Musthafa ditahan di penjara Tasikmalaya kemudian dipindahkan ke Bandung dan seterusnya tidak diketahui. Pada tahun 1970 kepala Erevele Belanda Ancol Jakarta memberitahu bahwa KH.Zainal Musthafa telah menjalani hukuman mati pada tanggal 25 Oktober 1944 dan dimakamkan di taman pahlawan Belanda Ancol Jakarta. Beberapa bentuk yang diberikan pemerintah atas jasa-jasa almarhum diantaranya : 1. Nama KH.Zainal Musthafa diabadikan menjadi jalan protocol utama Tasikmalaya. 2. Penggunaan gelar “Pahlawan Nasional” kepada almarhum dengan SK. Presiden Republik Indonesia No : 064/TK Tahun 1972 Tanggal 20 November 1972. 3. Pemindahan jenazah almarhum beserta 17 orang pengikutnya pada tanggal 25 Agustus 1973 ke Taman Makam Pahlawan Sukamanah. 4. Sejak tahun 1974 setiap tanggal 25 Februari diselenggarakan peringatan perjuangan KH. Zainal Musthafa dengan tidak melupakan peringatan 1 Rabiul Awal. 5 Memberikan santunan kepada keluarga almarhum. 6. memberikan berbagai bantuan kepada lembaga-lembaga pendidikan formal dan non formal yang ada dillingkungan yayasan KH.Zainal Musthafa Sukamanah. 7. Dibangunnya monument aktualilsasi perjuangan KH.Zainal Musthafa Sukamanah di bunderan By Pass Tasikmalaya yang diresmikan pada tanggal 16 November 2000 / 11 Sya’ban 1421 H oleh Gubernur Jawa Barat. Sungguh banyak pelajaran berharga yang dapat kita ambil dalam momentum peringatan perjuangan KH.Zainal Musthafa ini: • Semangat dan ruh Jihad • Disipilin aqidah, tidak ada kompromi dengan kedhaliman, kesesatan dan kemusyrikan • Cinta tanah air • Berani mengatakan haq walaupun pahit sekalipun • Tidah rela melihat kedhaliman dan penindasan • Perjuangan beliau dibangun diatas dasar fondasi yang kuat, sehingga kemenangan layak dicapai  Winning Value dalam arti beliau menanamkan sebuah nilai-nlai luhur terhadap santri dan masyarakat  Winning Concept dalam arti beliau seorang ulama, pejuang sekaligus negarawan yang berani beda demi kebenaran  Winning System, dalam arti beliau berdakwah dan berjuang teratut dan dengan bijaksana  Winning team dalam arti kesatuan dan persatuan diantara faktor yang sangat penting dalam perjuangan  Winning goal dalam arti tujuan beliau yang tiada lain I’laa kalimatillah dan musnahnya penjajahan dan kedhaliman. • Akar-akar sejarah yang ditancapkan diatas dasar Perjuangan dan pengorbanan yang tulus akan menjadi lautan dan ladang pahala yang akan berbuah manis di dunia dan diakhirat. KH. Drs A Thahir Fuad merupakan pimpinan Pondok pesantren Perg. KH. Zainal Musthafa Sukamanah kini, pasca sang pahlawan gugur dan setelah KH. Muhammad Fuad Muhsin (Sesepuh Pondok Pesantren Sukamanah) menghadap Yang Maha Kuasa. Semoga beliau dan para penerus perjuangan serta pelaku Sukamanah berikutnya senantiasa diberi kekuatan ketabahan dan ada dalam lindungan Allah SWT. (Sumber: Dokumen dan arsif Sukamanah ) Sang Pahlawan Kala fajar menyongsong mentari Bumi Sukamanah bersenandung riang Ada tawa gemuruh dan hempasan Lantunan berantai doa’ Dari kami untukmu pahlawan. Alam menggemakan suara angin perjuangan Jiwa kami bergetar mengenang perjuanganmu Angin semelir menghantar puji dan do’a Dari kami untukmu pahlawan Dahulu… Kau torehkan jejak perjuangan Dalam bara semangat agama dan bangsa Darah, keringat berpadu deru debu perjuangan Teriak semangat dan takbir menggetarkan Jantung bumi Sukamanah bergema Engkau… Dengan ikat kepala dan bambu runcingmu ditangan Dengan semangat rela mati untuk negeri ini Peluru, belati menumpahkan darahmu Dari dalam tubuh sucimu. Sungguh besar jasa dan pengorbananmu Jangankan harta benda nyawa sekalipun kau pertaruhkan Semangatmu tidak rela melihat agama dan bangsa terhina. Keberanianmu merubah yang pahit menjadi manis. Ya Allah tempatkanlah Syuhada dalam tempat yang mulia, Ya Allah anugrahkan kekuatan kepada pemimpin-pemimpin kami, Ya Allah Jauhkanlah bumi Sukamanah dari virus-virus perpecahan, Ya Allah anugrahkan kepada kami rahmat dan karuniamu, Ya Allah anugrahkan kepada kami keberkahanMU, Ya Allah anugrahkan kepada kami kekuatan memerangi kedzaliman.
Dari kami untukmu pahlawan. Damai dan tenanglah dalam pangkuan yang maha kuasa Damailah dalam peraduan doa’ suci anak negeri Damailah dalam dekap yang maha pemberi.
* Penulis adalah salah seorang santri pondok pesantren KH Zainal Musthafa Sukamanah.
Sukamanah, 25 Februari 2010

(Oleh: Edi Bukhori)*